Presentasiin Grafis Nusantara di Bolzano? | Claudia Novreica
Bayangin lo dapet kesempatan buat presentasi di luar negeri untuk pertama kalinya, di depan audiens yang lo belum pernah temui sebelumnya. Deg-degan? Pasti.
Claudia Novreica, writer dan researcher dari Grafis Nusantara ngalamin persis hal itu saat mengenalkan Grafis Nusantara ke Bolzano, Italia. It’s an unforgettable experience for her, dari nemuin trik simpel tapi efektif buat ngilangin nervous, jadi terbuka sama pikiran dari belahan dunia yang lain, sampai unexpectedly dapet kesempatan yang memperluas jangkauan Grafis Nusantara.
Simak gimana dia menghadapi tantangan ini, dan gimana akhirnya pengalaman ini ngubah cara dia melihat public speaking dan networking!
Facing the Unknown: Perjalanan ke Bolzano
C: “Selama di Grafis Nusantara, dan often times jadi speaker, gue jadi belajar dan mengidentifikasi, 'apa, sih, yang sebenarnya bikin gue takut atau nervous kalo udah deket-deket mau presentasi?' Dan most of the time, it's because of the fear of the unknown.”
Dari Cuma Ngirim Buku, Sampai Jadi Guest Lecturer di Bolzano!
Sebenarnya Grafis Nusantara udah aktif berpartisipasi di berbagai art book fair international, salah satunya Sprint Milano. Setelah dua tahun cuma mengirimkan buku ke Milan, akhirnya tim Grafis Nusantara bisa ikut serta dalam acara ini secara langsung.
T& (T&DON): Penasaran, deh. Gimana ceritanya Grafis Nusantara bisa sampe Italia?
C (Claudia): "Cara bisa ikut art book fair itu kita daftar ke penyelenggara art book fair dan nanti diseleksi sama mereka. Nah, setelah 2 tahun kirim buku aja ke Milan, akhirnya, November 2024, anggota-anggotanya berhasil ikutan juga. Acara Sprint Milano kemarin diadain tanggal 23-24 November 2024."
C: "Dan di saat yang bersamaan, gue juga diundang buat jadi guest lecturer, mewakili Grafis Nusantara, di tanggal 20 November 2024. Acaranya micro-conference di Free University of Bozen-Bolzano (UniBZ), sekitar 4 jam naik kereta dari Milan. Mumpung lagi travel, ayolah sikat aja, di dalam seminggu travel ke Itali itu art book fair sekalian ngisi talk."
Berawal dari Ngobrol Santai Sama Dosen
Menariknya, kesempatan ini berawal pas Claudia ngobrol santai sama dosen tersebut via DM Instagram tentang travel di Indonesia. Dosen tersebut ternyata sempat studio visit ke Grafis Nusantara saat berada di Indonesia. Percakapan santai ini kemudian berkembang hingga akhirnya Claudia diajak untuk memberikan kuliah di kampus tersebut.
C: “Dia sempet studio visit ke Grafis Nusantara waktu dia travel ke Indonesia. Awalnya dari ngobrol-ngobrol, dia ngajakin Grafis Nusantara buat ngasi kuliah ke mahasiswa dia.”
C: "Seru dan nggak nyangka banget yang awalnya cuma ngobrol-ngobrol lewat DM sama studio visit malah escalating jadi ngasih kuliah.
Exposure Grafis Nusantara Udah sampai Eropa!
T&: "Kepo dikit, kok bisa tiba-tiba random dosennya itu nge-DM soal travel di Indonesia? Awalnya dari Grafis Nusantara terus funelling ke lo, kah?"
C: “Seharusnya kayak gitu, yah. Terpapar dari website atau social media-nya Grafis Nusantara terus lanjut nge-reach out ke gue.”
Sejauh ini, Grafis Nusantara belum memiliki gambaran pasti seberapa luas jangkauan mereka di Eropa. Sebagian besar buku dan arsip yang dikirim ke Eropa itu masih by order atau melalui event-event tertentu kayak Sprint Milano.
C: “Tapi, kemungkinan juga presence Grafis Nusantara itu ada dari penjualan buku-buku yang dikirim ke Eropa hahaha.”
Bringing Grafis Nusantara Worldwide: Presentasi di Italia!
T&: “Now, let's talk about the presenting experience. Kemarin, topik utama guest lecture nya apakah pas di UniBz?”
C: “Topiknya adalah 'Archival Practices in Graphic Design', dan di sana, gue presentasiin works dan practices nya Grafis Nusantara sebagai kolektif arsip desain grafis dan milestones apa aja yang udah Grafis Nusantara raih selama 3 tahun aktif.”
Bisa dibilang acara micro-conference tersebut jadi tempat Claudia memperkenalkan Grafis Nusantara ke audiens yang lebih luas, kali ini ke mahasiswa graphic design di luar Indonesia. Acara Claudia terbuka untuk siapa saja yang tertarik dengan topik tersebut, sehingga ajang bagi faculty members dari berbagai jurusan untuk ikut serta dalam diskusi dan berbagi perspektif mereka juga.
Jadi, Gimana Experience Presentasiin Grafis Nusantara di Bolzano?
T&: “Apa rasanya presentasi soal archival pratice ke kampus di Bolzano?”
C: “Initially, nervous. Kepikiran apakah materi yang gue bawain menarik buat audiens. Apalagi, mahasiswa desain grafis yang kayaknya belum tentu semuanya tertarik dengan arsip yang banyak jargon-jargon akademiknya.”
Waktu presentasi yang cukup lama, sekitar 1,5 jam, juga jadi tantangan tersendiri. Sesi ini mencakup diskusi dan sesi tanya jawab, yang bikin Claudia makin overthinking pas mempersiapkan materi terbaiknya.
C: “Dan akhirnya waktu harinya tiba, surprisingly, tidak se-nervous itu pas udah sampe di venue-nya. Sebelum gue presentasi, gue diajak makan bareng dulu sama dosen-dosen, diajak tur kampus dulu, dan sempet ngobrol-ngobrol juga sama mahasiswa sebelum lecture mulai.”
C: “Gue rasa memfamiliarkan diri dengan tempat dan suasana presentasi sangat menolong untuk ngurangin rasa nervous dan overthinking.”
Alat Peraga: Bikin Presentasi Lebih Interaktif
Claudia sadar kalau ada kemungkinan gap komunikasi, terutama untuk hal-hal teknis seperti teknik printing. Akhirnya Claudia membawa alat peraga dari bahasan materinya agar mahasiswa bisa berinteraksi langsung dengan bahan bahasannya, dan bisa lebih mudah paham.
C: “Gue bawa, tuh, beberapa arsip fisik Grafis Nusantara dan buku Grafis Nusantara biar semuanya bisa ngeliat dan megang. Gue seneng kalo lecture-nya itu gak lebih banyak di gue yang ngomong, tapi jadi bisa dua arah karena ini.”
Diskusi dengan Audience dari Berbagai Background
T&: “Apa yang paling ditanya/feedback dari audiens pas sesi diskusi?”
C: “Ada 2 kubu pertanyaan. Kebanyakan mahasiswa nanya soal teknis. Kalo dosen atau faculty member soal cara pikir dan metode pengarsipan.”
Dalam sesi diskusi, mahasiswa lebih banyak bertanya tentang aspek teknis seperti bagaimana menciptakan warna-warna khas di buku Grafis Nusantara atau bahkan bagaimana membuat lenticular animation seperti yang ada di cover buku ketiga mereka. Menariknya, pola pertanyaan yang muncul mencerminkan latar belakang dan ketertarikan masing-masing kelompok audiens.
C: “Emang pertanyaan yang muncul datengnya sesuai dengan expertise dan interest mereka, yah.”
Diskusi berlangsung sangat aktif, dengan banyak ide dan pemikiran baru yang muncul dari berbagai perspektif.
C: “Dan feedback dari sesi diskusi menurut gue sangat lively. Yang gue suka dari lingkungan akademis itu, seperti yang gue udah mention, kalo komunikasi terjadi 2 arah. Bukan hanya gue yang presentasi, tapi gue juga bisa bertanya dan dapet input dari dosen bahkan dari mahasiswa juga.”
Kebetulan, dalam kesempatan ini, Claudia juga berkesempatan bertemu dengan guest lecturer lain dari Syrian Graphic Archive. Hal ini membuka peluang untuk berbincang dan bertukar wawasan lebih luas lagi.
Cara Claudia Mengatasi Nervous
C: “Kalo cara gue untuk mengatasi nervous adalah dengan memfamiliarkan diri dengan suasana tempat dan kondisi gue presentasi. Gue bakal take more time for it, so I can be more prepared.”
Dengan persiapan yang lebih matang, ia merasa lebih percaya diri ketika tampil di depan audiens.
Momen Berharga Setelah Presentasi
T&: “Apa AHA moment yang paling jadi highlight?”
C: “Gue banyak ngobrol sama audiens dan dari situ, gue banyak belajar dan ketemu peluang-peluang baru.”
Salah satu peserta ternyata memiliki toko buku di Napoli, dan akhirnya Grafis Nusantara bisa mulai menjual buku di tempat lain selain Milan.
C: “Seneng banget kalo Grafis Nusantara nggak cuma jadi 'penampungan' arsip-arsip aja, tapi juga bisa berkontribusi buat perkembangan keilmuan.”
Dari Ketakutan Jadi Keakraban
Dari awalnya merasa takut terhadap hal yang belum diketahui (fear of the unknown), Claudia berhasil ningkatin confidence-nya dengan beradaptasi bersama audiens dan ruangan. Ide membawa arsip dan buku fisik Grafis Nusantara juga terbukti efektif bikin presentasi lebih interaktif dan dua arah.